Wednesday, June 22, 2016

Dumu

Halo, Dumu.

Maybe you'll never see this because I was never allow you to know my blog, hahaha. But, yeah, this chapter is coming from my deepest heart. And...maybe I'll tell you about this someday.

Dumu, there's one little thing that you should to know; I'm sooooo blessed to know you, to have you as a boyfriend, as a partner we used to be. You (surprisingly) are my best gift from Jesus I ever had in my life. I never thought I could fall in love with you until now. I never thought we had a beautiful 2 years of relationship.

Banyak alasan kenapa aku sangaaat, sangat sangat terberkati bisa mengenalmu dan bahkan (pernah) bisa menjadi pasanganmu. Kamu menerimaku apa adanya, baik dan burukku. You always supported me to change my bad behavior.

Friday, May 22, 2015

Ya, Seharusnya Aku...

  Seharusnya aku lebih bersyukur. Seharusnya aku lebih mengerti. Lebih peka dan peduli. Seharusnya aku tidak egois.
  Untukmu, sahabatku (yang entah bagaimana kau bisa menyukaiku), maaf karena aku (mungkin telah) menyakitimu. Mungkin kau menyatakan perasaanmu di saat yang tidak tepat. Atau mungkin aku yang tak pernah peka akanmu? Ah, sudahlah. Ini seakan tidak ada habisnya.
  Seharusnya aku membuang jauh perasaan negatif ini. Aku memang sempat bangga dengan diriku karena rasamu. Tapi, aku sendiri telah memutuskan. Tak seharusnya aku berperasaan seperti ini saat aku tahu kau berniat melupakan rasamu dan mulai menumbuhkannya pada wanita lain.
    
  Dan untukmu, penyemangat kesayanganku, terimakasih kau mau hadir dan berjuang sejauh ini. Maafkan aku sering memandang sebelah mata kepedulianmu. Aku memang egois. Seharusnya aku lebih memikirkanmu seperti kau. Seharusnya aku lebih bersyukur bisa  memilikimu, tapi aku malah menginginkanmu dan dia.


    Aku berharap agar dapat memaknai bersyukur yang sebenarnya. Ya, seharusnya aku tidak boleh menginginkan hakku yang telah menjadi milik orang lain..

Sunday, May 3, 2015

Hari Ini

 Aku tahu tidak ada maksud lain di kejadian tadi selain ungkapan rasa sayang dan nyamanmu terhadapku. 
 Tenang saja, aku menyukainya. Itu bukan masalah besar. Lagipula, aku percaya padamu dan ketulusanmu. Aku percaya dengan penghargaanmu terhadapku sebagai wanita. 
 Jadi, jangan sedih, ya?