Friday, August 29, 2014

Sepotong Kisah dari Angkringan


       Arloji Ali menunjukkan pukul sebelas malam, tapi ruas jalan itu masih saja ramai. Angkringan sederhana di tepi jalan itu jelas menjadi penyebab banyaknya sepeda motor berjejeran. Muda-mudi yang asyik bercakap-cakap, Bapak pemilik angkringan yang sibuk melayani pembelinya, serta gelas-gelas kaca yang bersentuhan dengan tatakannya menambah hiruk-pikuknya suasana.
        “Eh, Nak Ali. Sudah lama sekali tak jumpa. Mau pesan apa?”
     “Kopi saja, Pak.” Jawab Ali, lalu duduk di selembar tikar yang telah disediakan, sedikit berjauhan dengan ricuhnya muda-mudi itu.
      Tak sampai lima menit, kopi hangat telah disuguhkan di depannya. Ia menyesapnya perlahan, sembari menikmati suasana malam di kota kelahirannya, sejak tiga tahun bekerja di kota orang. Setidaknya ini menghilangkan penatnya, walau belum sepenuhnya. Suasana ini melemparkan ingatan Ali ke masa lampau, sekitar sepuluh tahun yang lalu.
***
      Ia bukan anak keluarga berada, bukan pula seorang kaya-raya. Hidupnya sejak kecil hanya disokong dari usaha angkringan malam Ayahnya dan keterampilan menjahit Ibunya. Tikar-tikar di angkringan Ayahnya, Ibunya sendiri yang menjahit. Membantu Ayahnya  menyuguhkan makanan ringan dan menjahit tikar dengan Ibunya untuk dijual ke tetangga, menjadi favorit Ali semasa kecil.
      “Ali si anak angkringan! Sukanya keluar waktu malam!”
      “Laki-laki hello kitty! Senang menjahit! Hahaha.”
      Ejekan dari ‘mereka yang serba berkecukupan’ seringkali membuatnya geram, malu. Pernah suatu kali Ayahnya kesusahan karena Ibunya yang sakit, dan angkringan terbengkalai karena tak ada yang membantunya. Ali? Mengurung diri di kamar sepanjang malam. Malu, kalau-kalau seorang teman memergokinya melayani pembeli. Tapi tak sampai dua hari ia kembali membantu Ayah-Ibunya. Memangnya mau hidup dari mana kalau bukan ini?
      “Dewasa nanti, mau jadi apa kamu, Nak?”
      “Pengusaha, Yah.”
      Ayahnya terkekeh mendengar jawaban anak semata wayangnya. “Modal dan ilmu berwirausaha dari mana?” 
      “Tentu saja dari Ayah dan Ibu!”
      “Mengapa kau memilih pengusaha? Untuk melanjutkan sekolahmu saja belum pasti.”
      “Karena aku tidak mau hanya berwirausaha di angkringan seperti Ayah,” Beliau hanya tersenyum simpul mendengarkan Ali.
      Semenjak itu Ali tak lagi menghiraukan ejekan ‘mereka yang serba berkecukupan’. Sebaliknya, ia berkutat dengan buku-buku pelajaran yang mulai menguning dan rapuh karena panas matahari dan air hujan. Namun semuanya terbayar sudah. Menjadi pengusaha di kota tak lagi menjadi angan-angan. Malahan kini ia mendengar kabar bahwa mereka yang dulu mengejeknya, bingung mencari pekerjaan untuk menyokong hidup.
***
      Gelas kopi kini kosong sudah. Tapi hangatnya kopi masih terasa di tenggorokan Ali. Sehangat niatnya untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Tak sabar rasanya, pikirnya.





Natasha Astria Bella
Kediri, 28 Agustus 2014

  

0 comments:

Post a Comment