Friday, May 22, 2015

Ya, Seharusnya Aku...

  Seharusnya aku lebih bersyukur. Seharusnya aku lebih mengerti. Lebih peka dan peduli. Seharusnya aku tidak egois.
  Untukmu, sahabatku (yang entah bagaimana kau bisa menyukaiku), maaf karena aku (mungkin telah) menyakitimu. Mungkin kau menyatakan perasaanmu di saat yang tidak tepat. Atau mungkin aku yang tak pernah peka akanmu? Ah, sudahlah. Ini seakan tidak ada habisnya.
  Seharusnya aku membuang jauh perasaan negatif ini. Aku memang sempat bangga dengan diriku karena rasamu. Tapi, aku sendiri telah memutuskan. Tak seharusnya aku berperasaan seperti ini saat aku tahu kau berniat melupakan rasamu dan mulai menumbuhkannya pada wanita lain.
    
  Dan untukmu, penyemangat kesayanganku, terimakasih kau mau hadir dan berjuang sejauh ini. Maafkan aku sering memandang sebelah mata kepedulianmu. Aku memang egois. Seharusnya aku lebih memikirkanmu seperti kau. Seharusnya aku lebih bersyukur bisa  memilikimu, tapi aku malah menginginkanmu dan dia.


    Aku berharap agar dapat memaknai bersyukur yang sebenarnya. Ya, seharusnya aku tidak boleh menginginkan hakku yang telah menjadi milik orang lain..

Sunday, May 3, 2015

Hari Ini

 Aku tahu tidak ada maksud lain di kejadian tadi selain ungkapan rasa sayang dan nyamanmu terhadapku. 
 Tenang saja, aku menyukainya. Itu bukan masalah besar. Lagipula, aku percaya padamu dan ketulusanmu. Aku percaya dengan penghargaanmu terhadapku sebagai wanita. 
 Jadi, jangan sedih, ya?

Kamu

  Kalau ada seseorang yang menanyakan tentang bagaimana sifat dan sikapmu, aku akan menjawab: romantis. Ya, kamu romantis dengan melakukan hal-hal sederhana yang menyenangkanku. Aku teringat saat kamu tiba-tiba datang ke rumahku sambil membawa segelas jus jeruk dan cokelat batang karena aku tidak enak badan dan badmood
 Aku juga akan menjawab: selalu membuatku merasa aman. Kamu selalu merangkul pundak atau menggandeng tanganku saat aku di dekatmu..
  Kamu cerewet (baca: perhatian) supaya aku tidak malas-malasan.
 Kamu juga apa adanya saat berada di dekatku. Kamu tidak pernah merasa malu bermanja-manja padaku,  bercerita panjang lebar bahkan tertawa terbahak-bahak walaupun kita di tempat ramai.
 Aku merasa kau hargai sebagai wanita, tak pernah macam-macam terhadapku karena kamu benar-benar menyayangiku dan menjagaiku.
 Aku merasa senang dan nyaman dengan ungkapan sayangmu yang sederhana; membelai rambutku, mencubit pipiku, dan mencium tanganku.
 Ya, kamu memang sederhana dalam menyatakan betapa tulusnya kasih sayangmu, tapi aku menyukainya.
  
 Singkatnya, aku jatuh cinta denganmu dan sungguh bersyukur memilikimu.