Wednesday, June 22, 2016

Dumu

Halo, Dumu.

Maybe you'll never see this because I was never allow you to know my blog, hahaha. But, yeah, this chapter is coming from my deepest heart. And...maybe I'll tell you about this someday.

Dumu, there's one little thing that you should to know; I'm sooooo blessed to know you, to have you as a boyfriend, as a partner we used to be. You (surprisingly) are my best gift from Jesus I ever had in my life. I never thought I could fall in love with you until now. I never thought we had a beautiful 2 years of relationship.

Banyak alasan kenapa aku sangaaat, sangat sangat terberkati bisa mengenalmu dan bahkan (pernah) bisa menjadi pasanganmu. Kamu menerimaku apa adanya, baik dan burukku. You always supported me to change my bad behavior.
Inget waktu dulu aku bener-bener tertutup, nggak pernah mau ceritain masalah-masalahku? Kamu yang support aku untuk bisa terbuka. Kamu dulu bilang, kalo menyimpan masalah sendirian itu nggak baik. Kamu kasih aku masukan-masukan yang berguna buat aku sama masalahku. You are the one who made me realized that I have someone I could share my problems with, someone I could believe to. Serius, tiap kali aku cerita ke kamu tentang masalahku, rasanya plong banget.
Aku jatuh cinta dengan caramu menyayangiku; sederhana, nggak muluk-muluk (nggak lebay sampek kasih bunga atau hadiah yang mahal-mahal kayak di socmed), tapi tetep respect aku sebagai wanita dan sebagai pasangan. Dan, aku bisa ngerasain rasanya punya kakak cowok kalo sama kamu, hehehe (I always wanted to know how have a brother feels like). Aku nyaman banget waktu lagi sama kamu, karena aku tau, someone beside me (re: you) will always protect me.

My friends called you 'alay' sometimes, soalnya mereka sering nggak sengaja baca chat Whatsapp-mu yang notifnya muncul di HP. Kata mereka, 'kakehan emot', 'ciee diceluk nona cantik', dsb. But, that's not a big deal for me. Bagiku, kalo cowok bisa ngalem sama pasangannya, itu nunjukin kalo dia nyaman sama pasangannya. Dan, aku bangga! I'm so proud with that!<3 Chat-chatmu yang sering dibilang 'alay' sama temen-temenku malah bisa bikin aku melting and have a reaaaallyyyy good day.

Aku senang saat kita bisa saling melengkapi. Kak Vivi sering banget bilang kalo karakter kita sebenernya cocok dan pas loh. Memang sih, aku bisa ngerasain kecocokan karakter antara kita berdua. Sometimes aku ada di posisi pas aku childish banget; marahan, emosian, dsb. Honestly, it's so hard to control my negative character. Tapi, di saat itu kamu ada dengan sikapmu yang dewasa. Kamu bisa meredam sikap jelekku. Kamu bisa bikin aku tenang. Dan sebaliknya, waktu kamu having a bad day, di situ aku selalu merasa punya tanggung jawab buat hibur kamu, ada buat kamu, bantu kamu. Bagiku, pacaran sama kamu itu bukan sekedar suka, sayang-sayangan, atau masalah peka-nggak peka. Tapi tentang pentingnya komitmen, dukungan satu sama lain, kepercayaan, kedewasaan, ke depannya mau gimana, dan tentu saja, Tuhan yang harus ada di tengah-tengah kita.

Dumu, aku bener-bener seneng dikasih (atau dititipin yah?) Tuhan Yesus orang seperti kamu; seiman, baik, menjaga. Tapi... mungkin kita yang menyalahgunakan itu ya, Mud? Kita pernah menjalani hubungan itu dengan cara yang salah. Kita pernah terjebak di hubungan yang nggak sehat, yang mungkin nggak Tuhan suka. Kamu tau maksudku kan? Inget gimana cara kita pacaran dulu?
Mud, bukannya aku menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi antara kita sekarang. Aku nggak menyalahkan Tuhan kenapa kita renggang sekarang. Bagiku, saat ini kita sama-sama salah. Honestly, di tiap doaku, selalu ada 'bagian khusus' tentang kamu. Aku bersyukur Mud, masih dikasih pertolongan untuk doain kamu. Aku bersyukur masih dikasih kekuatan untuk tetep mengasihi (dan bahkan menyayangi) kamu. Kalo dipikir-pikir, seandainya aku bukan anak Tuhan, aku pasti udah kirimin kamu kata-kata kasar ke kamu waktu kamu bilang ke aku 'nggak bisa sayang lebih dari temen' (because that was REALLY REALLY HURT ME dan rasanya kayak mau nge-benci kamu aja). Percaya atau nggak, dulu aku udah maunya kirim kata-kata kasar ke kamu, loh. Tapi rasanya kayak ada yang nge-stop.
Di tiap doaku, aku juga selalu minta ampun karena cara kita pacaran dulu, Mud (aku harap kamu juga gitu, ya). Aku juga selalu bilang sama Tuhan kalo aku kangen kamu banget. Aku rindu kita bisa jadi pasangan seperti dulu, tapi dengan cara yang baik di hadapan Tuhan.

Oh ya, Mud, mungkin kamu nggak tau, tapi sepertinya orangtuamu dan orangtuaku lagi bersinggungan sekarang. Ada sesuatu yang membuat mereka 'berbeda' satu sama lain. Mungkin perasaanku aja, atau mungkin aja bener, tapi aku juga nggak ngerti jelas kenapa. Tapi hal itu cukup bikin aku ngerasa terbeban (karena secara nggak langsung ngaruh ke hubungan kita juga). Tapi Mud, aku bener-bener bersyukur karena aku bisa tetep mengasihi kamu dan keluargamu. Ini serius loh. Belum pernah aku mengasihi keluarga orang lain sedalem ini. Yaaa.. aku tau aku juga belum sepenuhnya deket dan mengenal keluargamu. Tapi bagiku, mengasihi kamu dan keluargamu jadi sukacita tersendiri buat aku J

Dan satu lagi Mud. Aku seenggaknya juga bersyukur dikasih waktu renggang sama Tuhan. Aku bisa introspeksi gimana peranku selama ini ke kamu. Aku baru sadar, ada satu hal tentang kamu yang aku lewatin, dan bikin aku seakan-akan egois ke kamu. Yaitu: kamu orang yang suka kebebasan. Kamu pengen tetep bebas walaupun lagi pacaran. Itu sebabnya kamu (sepertinya) bisa cepet bosen sama yang namanya komitmen. Walaupun kamu sendiri yang menyatakan komitmen itu, tapi tetep aja, kamu butuh kebebasan. Dan, seringkali hal itu yang belum bisa aku terima. Maaf ya Mud, kalo selama ini bagimu aku terlalu mengikat.
Secara nggak langsung, sejak kita putus sampe kita lost contact sekarang, banyak hal yang bikin aku semakin kenal kamu, luar dalem. Semakin kenal sifatmu, baik dan buruknya.

Duh panjaaanggg banget ya? Hehehehe. Nggak yakin deh kamu baca ini semua sampe habis, hehe.

Mud, kayaknya kalo disuruh milih lagu yang 'pas' sama keadaan kita, aku bakal milih lagu ini:
Pergilah kasih
Kejarlah keinginanmu
Selagi masih ada waktu
Jangan hiraukan diriku
Aku rela berpisah demi untuk dirimu
Smoga tercapai sgala keinginanmu 

I can't force you to have a same feeling with me. Aku tau mungkin sekarang kamu udah nggak mengharapkan aku lagi. Aku masih bisa terima kalo kamu ninggal aku dengan cara kayak gini karena tuntutan studimu, cita-citamu, aku tetep support kamu (tapi aku mungkin bakalan benci banget sama kamu kalo kamu pake alasan ini tapi kamu suka sama cewe lain). 
One thing you should know, I'll always love you. I'll keep this feeling in my deepest heart, no one knows except you and Jesus. I'll always love you, although I should to let you go now. Peranku sebagai orang yang pernah berharga bagimu udah selesai di sini. Sekarang, aku cuma bisa menyentuhmu dalam doa. Aku nggak tau apa Tuhan mengabulkan doaku buat bisa bareng-bareng lagi sama kamu someday (aku berharap banget sih), but this is it. Good bye, Dumu. It's been nice to love you...J

0 comments:

Post a Comment